Jumat, 28 Agustus 2009

"Ma, Aku Mau Ganti Nama!"


Seorang rekan terhenyak ketika putri ciliknya yang berusia 3 tahunan mengajukan protes," Mama, kenapa namaku bukan Princess?". Sementara seorang rekan lainnya langsung mati gaya ketika anaknya yang menjelang remaja keberatan dengan namanya yang mirip seorang penyanyi dangdut. Bagaimana orangtua merespons protes semacam itu? Haruskah dituruti bila anak ngotot ingin mengganti namanya?

"Tidak harus kok!", tukas psikolog dari Personal Growth, Nessi Purnomo, Psi. Mengapa? Selain sederet kerepotan yang harus siap dilakoni terkait dengan aspek legal, pada dasarnya nama adalah doa dan harapan yang diformalkan lewat Akta Kelahiran sekaligus dipublikasi kepada khalayak.

Menurut Nessi, mestinya orangtua bisa memaklumi keinginan anak untuk mengganti namanya dengan sesuatu yang dinilainya lebih keren. Nama yang dianggap sarat makna sebagai bentuk doa dan harapan orangtua, sangat mungkin dianggap aneh dan jadul oleh anak.

Sikap anak yang terkesan merendahkan nama pemberian orangtua ini pun seyogyanya tidak dijadikan bahan perdebatan sengit. Bukankah referensi anak pun mengalami pergeseran? Akibatnya, melalui apa yagn dilihat, didengar, dan dibacanya di era globalisasi, nama-nama yang bermuatan lokal lantas dinilai sangat tidak keren sekaligus membuat anak merasa risih mengingat nama seseorang identik dengan identitas dirinya sepanjang hidup.

Jadi, tukas Nessi, ketika seorang gadis cilik berusia 3 tahunan melakukan aksi protes seputar nama yagn disandangnya, orangtua tak perlu terpancing untuk marah. Sangat mungkin dia melihat bacaan atau menonton tayangan tertentu dimana si Princess digambarkan sebagai putri cantik, mengenakan gaun indah, dan hal-hal lain yang terlihat serba menyenangkan.

Ketimbang berdebat dengan anak, lebih bijak bila orangtua menggali beberapa hal darinya. Di antaranya dari mana anak tahu nama itu, bagaimana nama itu di mata anak, mengapa anak menyukai nama tersebut, dan sebagainya. Lagipula, anak usia ini biasanya hanya mempertanyakan dan bukan ngotot untuk mengganti namanya.

Berbeda dengan "kakak"nya yang sudah duduk di bangku SD. Orangtua mesti lebih tanggap kalau anak usia 12 tahunan mengajukan protes serupa. Mengapa? Kalau ia sampai protes sangat mungkin si anak merasa sangat tidak nyaman dengan nama pemberian orangtuanya.

Besar kemungkinan anak mendapat tekanan sosial berupa ejekan dari teman-temannya. Padahal di usia ini kehadiran teman sebaya sangat berpengaruh. Jadi, keinginannya untuk ganti nama biasanya tidak berdiri sendiri sebagai sebuah keinginan dari dalam dirinya.

Apa pun alasan anak untuk mengganti namanya, menurut Nessi, orangtua wajib menyampaikan sejarah terkait dengan nama si anak, apa maknanya, apa pertimbangannya yang membuat orangtua sampai pada keputusan memilih nama tersebut.

Tegaskan bahwa dalam segala hal orangtua selalu menginginkan yang terbaik untuk anaknya, termasuk dalam pemilihan nama. Ajaklah anak untuk mengenal lebih jauh sosok dengan naam tersebut yang bisa saja diambil dari nama tokoh di kitab suci, tokoh pewayangan, atau tokoh mana pun.

Dengan demikian anak bisa diajak berpikir positif, sehingga tidak mentah-mentah menerima ejekan teman-temannya. Tentunya, butuh waktu yang tepat untuk bicara dari hati ke hati dengan anak membahas hal ini.

Kalau anak sebatas ingin ganti nama panggilan, ya turuti saja permintaannya. Begitu juga bila anak tidak suka nama tengah atau nama depannya, semisal karena berbau kesukuan, boleh-boleh saja bagian nama tersebut dijadikan singkatan.

Sedangkan kalau anak keukeuh pada pendiriannya untuk ganti nama secara formal, orangtua pun berhak menunjukkan sikap tegas. Minta anak bersabar menunggu sampai ia cukup dewasa (17 tahun) sehingga anak kelak bisa mengurusnya sendiri.

Atau bisa juga sampaikan dengan nada bergurau. Misal, "Meski sudah mengandung kamu selama 9 bulan, toh Ibu waktu itu tidak bisa menanyakan kamu mau diberi nama siapa."

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar